Minggu, 10 Maret 2013

cerpen

aku, kamu, kita ?



Kau begitu elok
Aku begitu layu
Merunduk menghujam menuju tanah
 Mungkinkah kita bersama?
 Iyakah kita akan bersatu?
Kau benderang bagai cahaya bintang.
 Dan aku?
Aku hanya seutas cahaya yang redup ditengah gelapnya malam.
Kau langitku.
Kau pelangiku.
Kau matahariku.
Tapi apa daya hati tak gerak.
Ku tak mampu menemanimu dalam kilau api yang membara.
 Biarkan aku hanyut terbawa arus.
Biarkan aku terbang menemui badai.
Kujaga kau dalam sanubari.
Sampai waktu tak berdetak
Kau tetap permata bagiku

“Kinarr!!!” teriak Rana dari depan pintu kelas Kinar.
Seorang laki-laki bertubuh jangkung dengan wajah yang rupawan menoleh dari tempat duduknya. Dia bergerak maju ke depan kelas.
“ada apa Na?” tanya Kinar.
“aku udah dapet tugasnya nih.” Kata Rana senang.
“oh, iya.” Kata Kinar datar. Dia hendak kembali ke tempatnya semula.
“kenapa kamu Nar? Muka kamu kusut gitu?” tanya Rana penasaran.
“nggak kok.”
“alah, nggak usah bohong. Aku tau kamu Kinar. Kamu kenapa? Ada masalah? Kamu putus sama Sarah? Kamu dimarahin bapak kamu lagi? Kamu dapet nilai jelek? Kenapa Nar? Crita dong!” Rana bertanya hampir tak memperhatikan titik koma.
“udah nanyanya?” tanya Kinar geram mendengar pertanyaan Rana yang seperti tak ada habisnya.
“aku kan Cuma nanya Nar. Maaf deh. Aku balik ke kelas dulu kalo gitu.” Rana sedih mendengar jawaban Kinar barusan. Dia hanya ingin membantu, tak lebih dari itu.
Rana berlalu meninggalkan kelas Kinar. Wajahnya yang tadi ceria kini berubah menjadi kusut layaknya wajah Kinar yang Rana temui tadi.
Rana dan Kinar sudah berteman sejak masuk SMA. Lebih tepatnya sejak MOS di sekolah itu. Mereka sangat bertolak belakang, entah dari sikapnya, postur tubuhnya, bahkan hingga isi otaknya.
Kinar seorang laki-laki jangkung berparas rupawan adalah kapten basket sekolah. Dia pendiam, lurus dan selalu berpikir serius. Di benaknya hanya tugas, basket, tugas lagi dan kembali ke basket lagi. Hanya dua dunia itu yang menurutnya hidup. Dan Rana adalah seni bagi Kinar. Dalam diri Rana dia menemukan kebahagiaan. Menemukan gelombang dalam kehidupan dan menemukan senyuman.
Rana adalah gadis kecil atau lebih tepatnya mungil. Suka mengkhayal dan selalu ceria. Dia mengibaratkan segala kehidupan ini sama seperti dongeng-dongen ataupun novel-novel yang sering dia baca. Wajahnya tak terlalu cantik karena ditutupi dengan kacamata berminus tebal itu. Rana memiliki kulit coklat kehitaman hal itu yang membuat dia tak pernah takut bergerak kesana kemari walau panas sangat menyengat. Kinar adalah penata hidupnya, kaki-kaki yang membantunya menginjak bumi lagi setelah sekian lama berada di dunia khayal. Selalu meningatkan Rana untuk hal sekolah tugas dan yang berbau keseriusan lainnya.
Mereka berdua beda, tapi mereka dapat mengkombinasikan perbedaan itu dan membuat mereka berdua lebih sempurna.
***
Kinar memasuki kelas Rana yang renggang. Dia tek menemukan Rana disana. Dia berjalan kearah Reno teman sekelas Rana yang duduk santai dibawah pohon depan kelas.
“No, Rana mana?” tanya Kinar.
“bukannya kamu lagi marah sama dia?” tanya Reno
“ah, udah nggak. Rana mana sekarang?” tanya Kinar lagi
“nggak tau, sejak bel tadi dia udah ngilang. Coba deh kamu sms atau telfon dia.” Jawab Reno
“udah No, tapi nggak diangkat. Aku sms juga nggak dibalas. Rana kemana ya?” ucap Kinar kawatir. Dia menoleh-noleh ke segala arah, berharap menemuka seseorang yang dia cari disudut sana.
“makanya. Kalo ngomong sama cewek itu hati-hati.” Kata Reno
Kinar menoleh ke arah Reno sekilas. Sejurus dia berlalu meninggalkan Reno. Kinar bergegas ke kantin sekolah, kosong. Dia menuju ke perpustakaan. Rana juga nggak ada disana.
“lihat Rana nggak?” tanya Kinar pada teman sekelas Rana yang dia jumpai dijalan.
“nggak Nar.”
“lihat Rana nggak?”
“nggak Nar.”
“Rana kamu kemana sih, udah hampir bel nih. Aku minta maaf kalo aku salah ngomong tadi pagi. Ayolah Rana, kamu dimana?” kata Kinar dalam hati.
Bel pun sudah berbunyi pertanda istirahat udah bubar. Kinar yang patuh banget sama aturan mengentikan langkahnya mencari Rana dan kembali ke kelasnya.
Sepanjang pelajaran, hati Kinar tak tenang. Dia merasa sangat bersalah sama Rana. Pikiran Kinar semakin tak karuan. Pelajaran berakhir. Bel istirahat ke dua berdentang.
Kinar bergegas ke kelas Rana.
“Rana kemana?” tanya Kinar pada teman Rana.
“ke masjid. Tadi sama Reno.” Kata gadis berambut lurus panjang itu.
“oke makasih.” Kinar berlari menuju masjid sekolah diujung barat.
***
Setelah sampai di masjid Kinar menemukan Rana sedang solat disana. Ditungguinya sampai Rana selesai solat.
“Rana.” Panggilnya. Ketika Rana memakai sepatunya diteras masjid.
Rana menoleh “Hai .” teriaknya.
Kinar berjalan mendekati Rana.
“ngapain kamu disini?” tanya Rana.
“nyariin kamu jelek.” Kinar mengacak-acak rambut lurus Rana.
“hehe. Tumben. Ada apa emang?” tanya Rana seneng
“ga ada apa-apa.”
Rana terlihat manyun seperti anak kecil batal dapat coklat.
“ayoh ke kelas jelek. Udah sepi nih.” Kata Kinar.
Untuk pertama kalinya Kinar megang tangan Rana dan itu terasa sangat hebat bagi Rana. Kinar terus menarik tangan Rana hingga sampai dikelas.
“Kinar, sayang ya kamu nggak pernah tau rasa ini.” Kata Rana dalam hati.
“Nar, tunggu bentar deh.” Kata Rana
“apa?” tanya Kinar.
“aku mau tanya. Kenapa kamu jadi baik sama aku? Tadi pagi kan masih marah?” tanya Rana dengan polosnya.
“nggak apa-apa Rana.” Kata Kinar. Dia tersenyum teramat manis pada Rana. Dan Rana tak bisa berkata apa-apa ketika itu.
***
Pulang sekolah Kinar udah ada di depan gerbang.
“Rana!!” teriak Kinar.
Rana kaget. Dia menoleh ke arah suara itu.
“Rana. Sinii!!” teriak Kinar lagi.
Rana berlari ke arah Kinar.
“ada apa Nar?” tanya Rana.
“ayoh pulang bareng.” Ajak Kinar
“nah? Emang kemana sepeda kamu?” tanya Rana
“si eneng. Mangkanya kalo berangkat itu jangan suka telat. Aku tadi nggak bawa sepeda. Bocor bannya. Jadi aku tinggal di kos” Kata Kinar menerangkan
Rana hanya tersenyum menahan malu. “iya deh iya Bapak Kinar.” Kata Rana tertawa cekikikan.
“Na, maafin yah soal yang tadi pagi.” Kata Kinar
“oh, nggak apa-apa kok.” Rana tersenyum.
“......” Kinar terdiam lama.
“Nar, tau nggak. Kita itu beda. Beda banget. Sulit bagi aku ngikutin langkah kamu, yang jelas-jelas aja jalannya udah nggak sama dengan jalan yang aku lalui.” Kata Rana
Kinar menghentikan langkahnya. Dia terdiam memandang seorang gadis kecil yang semakin jauh melangkah dihadapannya. Sesaat dia memikirkan perkataan gadis itu.
“Nar! Ayokk!!” teriak Rana jauh di depannya.
Kinar berlari mengejar Rana.
“tapi kita udah buktiin Na, kita bisa hadapin perbedaan itu. Aku dan kamu itu tetep akan jadi sahabat. Kita akan selalu bersama.” Kata Kinar meyakinkan .
Rana menoleh pada laki-laki disampingnya. Dia tersenyum.
“lihat Nar. Lihat. Aku ini kecil, penghayal dan terkadang suka bikin ulah dan nyusahin kamu.” Kata Rana. “aku nggak mau nyusahin kamu Nar. Aku nggak mau semua itu terjadi. Aku nggak ada pantas-pantasnya jadi teman kamu. Aku udah coba selama hampir dua tahun ini, tapi aku tetap tak bisa Nar. Kamu selalu berpikir rasional dan aku suka banget hayal menghayal. Kita itu beda Kinar.” Rana berkata dengan mata berkaca-kaca.
Kinar memeluk tubuh mungil Rana.
“kamu salah Rana. Kita emang beda. Tapi kita pasti selalu bisa hadapin itu. Aku percaya. Dan aku akan selalu percaya, bahwa kita bisa.” Kata Kinar.
Rana menangis dipelukan Kinar.
“kamu harus berjanji akan selalu ada buat aku.” Kata Kinar.
“kamu juga harus janji nggak akan ninggalin aku. Kita sahabat selamanya.” Kata Rana
“Janji.” Jawab Kinar
“Janji.” Rana tersenyum senang.
~end~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar