Minggu, 10 Maret 2013

MANUSIA DI TENGAH PERSIMPANGAN




Dia berjalan dan terus berjalan, dia berjalan dengan semua kemauannya. Dia tak pernah berhenti walau hanya untuk sekedar menoleh ke samping. Dia terus dan terus berjalan. Hingga dia menemui sebuah persimpangan. Dia tak menghiraukan persimpangan pertama. Dia masih tetap berjalan lurus dengan kakinya. Dia tak mengenal lelah. Dia selalu merasa bahwa dia selalu bisa. Dan selalu bisa.
Persimpangan kedua dia lewati, lagi-lagi dia tak menoleh sama sekali dengan adanya persimpangan kedua tersebut. Dia kembali terus berjalan lurus. Segala yang ada dalam pikirnya hanyalah segera menemui titik akhir dari segalanya. Tanpa berusaha untuk mengerti keadaan disekitarnya. Persimpangan ketiga, keempat, kelima dan seterusnya dia lewati selama itu pula dia tak pernah menoleh pada segala keadaan yang dia rasakan. Entah itu lapar, haus, bahkan juga kantuk. Dia menahan segalanya. Menyembunyikannya dan mencoba menahannya sendirian. Dia terus berjalan. Berjalan dan berjalan lurus kedepan.
Hingga mencapai tikungan ke 17 dia berhenti. Dia merasakan segala yang terjadi disekitar persimpangan itu. Dia terdiam ditengah perjalanan, dia termenung. Meresapi segala sesuatu yang telah dia alami selama ini. Dia menangis, dia tertawa bahkan terkadang dia takut. Dia merasakan semuanya tanpa menoleh kearah mana pun. Dia mendongak dan berdoa pada Tuhan, dia berharap Tuhan selalu meridhoi segala yang yang telah dia lalui. Dulu, sekarang dan mungkin kelak.
Dia... dia kembali berjalan. Berjalan lurus, selurus jalanan yang dia lalui. Dia hanya berpikir, kapan jalan ini  akan berakhir? Kapan segala yang dia rasakan akan terungkap di ujung jalan sana? Persimpangan ke 18 mulai terlihat mata. Dia tak bergeming. Dia tetap melanjutkan perjalanannya. Di persimpangan ke 20 dia terdiam sejenak di tengah persimpangan. Dia ragu. Hatinya mulai ingin menoleh ke kanan dan kirinya. Namun raganya berontak. Raga itu tak mau menoleh ke arah mana pun. Raga itu tetap memaksa dia untuk terus berjalan. Lagi-lagi hatinya kalah kuat dengan raganya. Dia masih dan masih terus berjalan.
Puluhan persimpangan dia lewati dan tak satupun yang berhasil dia tengok. Dia masih berjalan lurus menyusuri tiap-tiap langkah yang dia rasakan. Panas, dingin tak dia hiraukan. Angin, badai menjadi teman dalam perjalanannya. Dia... sungguh dia manusia selurus bambu, tekatnya teramat besar. Tanggungjawab untuk menyelesaikan perjalanan ini jauh lebih besar. Dia memimpin hati dan raganya. Tiba di persimpangan ke 37 dia kembali berhenti. Termenung kembali ditengah persimpangan. Mencoba merasakan segala yang ada di dadanya. Hatinya berontak jiwanya marah dan akhirnya dia memutuskan untuk menoleh. 90 derajat kearah kanan dan kiri. Dia pun tersenyum, dia tertawa bahkan dia berteriak dan menangis. Dia menyesal dia teramat menyesal. Dia merasa menjadi orang yang sangat bodoh melibihi semua orang yang telah didahuluinya dalam melakukan perjalanan. Dia merasa sedang dibohongi dengan kehidupannya sendiri. Dia berbalik arah dan duduk di tengah persimpangan itu. Dia menelungkupkan tubuhnya dalam lutut. Menenggelamkan sebagian wajahnya kedalam lingkaran itu. Dia menangis. Dia menyesal, mengapa tak dari dulu dia menoleh bahkan menengok sekelilingnya. Dia melihat banyak orang tertawa bebas di balakangnya. Melihat banyak orang bertubuh gemuk nan sehat di belakangnya. Dia melihat seorang sarjana muda berdiri tegak dibelakangnya bahkan dia melihat orang tuanya melambaikan tangan dan tersenyum kearahnya.
Dia teramat menyesal sekarang. Jalan yang selam ini dia lalui tak pernah memiliki ujung. Jalanan yang selama ini dia lalui akan terasa mudah dengan hadirnya orang-orang terdekatnya. Akan serasa lebih bersemangat jika dia selingi dengan canda dan tawa bersama teman-teman. Akan serasa lebih ringan jika dia selalu memikirkan kesehatannya. Akan terasa lebih dan lebih menyenangkan jika dia mau menoleh dan memperhatikan sekitar. Banyak orang yang selalu perhatian dengan dia. Banyak orang yang selalu mensuportnya. Banyak orang yang selalu mengikutinya. Membantu dimana dia menemukan masalah membantu ketika dia menemukan kebuntuan dan membantu jika dia tak bisa melerai pertengkaran antara raga dan jiwanya. Dia berlari memeluk keluarganya. Teman-temannya berdatangan mengerumuninya. Guru-guru tersenyum kepadanya seolah memberikan semangat untuknya. Dan dia berteriak, berteriak dengan segala tenaga yang dia punya.
Aku menyesal pernah menjadi seseorang yang selalu memandang lurus kedepan, aku menyesal karena aku tak pernah memperhatikan sekitarku selama aku berjalan dan aku lebih menyesal karena aku telah menyianyiakan semua yang mereka berikan padaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar