Senin, 11 Maret 2013

pertemuan di tengah bintang



Ku terbangun dalam  tidurku. Terdiam di tengah rerumputan nan luas. Diamanakah aku sekarang?? Apakah aku berada di alam lain? Mungkin. Ku berjalan menyusuri rerumputan yang menurutku tak punya ujung itu. Ku tengok sekelilingku. Sepi. Senyap. Tak ada satupun orang disana. Aku takut. Aku berlari menepi ke sebuah pohon yang hanya satu-satunya di tempat itu. Sejenak ku terbelalak menatap sesuatu di balik pohon itu. Alangkah tampannya lelaki di tepi danau itu. Siapakah gerangan? Dia berpakaian putih bersih, layaknya malaikat yang turun dari langit. Ku dekati sosok lelaki tersebut. “Hai.” Sapaku. Lelaki itu tak menjawab, hanya menoleh kepadaku. Namun sayang, saat kucoba memperhatikan wajahnya sekelebat daun jatuh menutupinya. Sekejap itu pula sosok lelaki itu lenyap. Ku pandang sekeliling, dan kudapati dia sudah berjalan menjauh dariku. “Hai. Siapakah namamu?” teriakku padanya. Dia acuh. Menjawab atau bahkan menoleh pun juga tidak. Namun tiba-tiba aku terpeleset dan terjatuh kesungai tersebut. Dan. . . .

Akhirnya aku sadar, bahwa semua itu hanya mimpi dalam mimpi. Setelah ku dapati ibuku yang membawa segelas air untuk membangunkanku. Pinka. Pinka. . . itu semua hanya khayalan yang tak akan pernah menjadi nyata.
Kuterbangun dengan sangat malas, mengingat hari ini jadwal kegiatanku sangan padat. Sebenarnya aku ogah-ogahan, namun keadaan yang telah mengatur segalanya. Kuberangkat sekolah dengan wajah yang masih tertekuk. Hah,, hari-hari yang sangat membosankan.
Dengan muka yang masih sangat malas, kuberjalan dengan wajah tertunduk. Tiba-tiba Rea mengagetkanku. “Hai Pinka,, tuh pangeran kamu baru datang.” Kutatap seorang laki-laki sebayaku berjalan membelakangiku. Membawa sebuah gitar kecil yang tak pernah ditinggalkannya. Itulah Gheda, seorang laki-laki dengan tubuh kurus dan kulit sawo matang, rambutnya yang tak pernah tidur membuat aku semakin hafal dengannya. Dialah seseorang yang mampu meluluhkan hatiku. Namun sayang, rasaku ini hanya berat sebelah. Tapi aku tak pernah putus asa, selalu dan selalu kucoba untuk mendekatinya. Meskipun selama ini pekerjaan itu hanya terbuang sia-sia. Mungkin inilah yang disebut pengorbanan.
Malamnya, aku mencoba untuk menghubungi kak Gheda, namun hasilnya tetap nihil. Kubuang Hp ku ke tempat tidur. “Aku benci dengan kau Gheda.” Teriakku bersama dengan turunnya air mata.  ”mengapa harus kau yang ada dalam hatiku? Mungkin semua ini tak akan terjadi jika kita tak bertemu. Lantas sekarang siapa yang harus disalahkan jika aku selalu menangis karenamu?” renungku di bawah kerlipan bintang. Aku kembali meneteskan air mata. Sedih. Sungguh sedih saat itu suasana hatiku.
Hari-hari kulalui dengan tak ada sesuatu yang istimewa. Menyedihkan malah. Dia yang aku inginkan tak pernah sekalipun menoleh kepadaku. Huhuhuhu L aku takut. Aku takut jika hatinya sudah untuk orang lain. Namun, aku juga sadar. Aku hanyalah seorang wanita. Tak mungkin aku menyatakan perasaanku duluan. Aku bingung, sungguh bingung. Apa yang harus ku lakukan?
Akhirnya aku menyerah, aku tak kuat dengan perasaan yang melandaku dengan Tuan Gedha. Aku berusaha untuk tak menyayanginya lagi. Aku berusaha untuk melupakannya? Bisakah kau pinka? Hanya waktu yang dapat menjawab segalanya.
Saat jam olahraga. Tanpa disengaja aku bertemu dengan Gedha. Dia berjalan dengan temannya yang juga merupakan ketua remas di sekolah.   “kak,” sapaku. Gedha hanya tersenyum manis, teramat manis malahJ. . namun si ketua remas payah itu malah menjawab dengan suara lantang. Dasar tolol, bukan kamu yang aku panggil. Karena itu Gedha jadi tersipu malu saat berpapasan denganku lagi di parkiran sepeda siangnya.
Kutermenung di tengah keributran dalam ruang kelas. “Hai pinka. Kenapa kau diam saja?” Tanya Reva temanku. “Ah, tak apa. aku hanya ingin begini.” Jawabku tanpa ekpresi. Mendengar jawabanku yang serasa ingin sendiri, Reva meningalkanku dan bergabung bersama teman-teman lain. aku berpikir, mungkinkan Gedha membalas sms ku kemarin hanya karena tak enak denganku, bukan karena merespon perasaanku? Mungkinkah sudah ada  orang lain yang mengisi hatinya? Berbagai pertanyaan berkecimung jadi satu dalam otakku. Keributan dalam kelaspun tak mampu membuat otakku untuk berhenti memikirkan Gedha. Gedha tahukah kamu??? Bahwa aku sangat, sangat, dan sangat mencintaimu. Siang dan malam ku slalu berdo’a untukmu. Agar kau bisa membalas cintaku. Agar kau bisa menjadi kekasihku.
Berbagai cara kulakukan agar aku bisa melupakanmu. Buang jauh-jauh rasa yang pernah hinggap di hatiku. Namun, sia-sia seberapapun orang yang kupaksa masuk hatiku, kamu.. kamu Gedha. Kamu tetap punya tempat tersendiri di hatiku. Dam tempat itu kupastikan tak akan pernah terjamah oleh orang lain. entah itu Dimas ataupun yang lainnya.
Setahun berlalu perasaan yang berat sebelah itu belum juga mendapati titik terang. Jauhh. Jauh sekali dari harapan. Tak terasa air mataku menetes saat mendengar lagu shela on 7- berhenti berharap. Kasian kamu Pinka. L “aku tak percaya lagi, dengan apa yang kau beri. Aku terdampar disini tersudut menunggu mati. Aku tak percaya lagi akan guna matahari yyang mampu terangi sudut gelap hati ini. Aku berhenti berharap dan menunggu datang gelap, hingga mungkin suatu saat tak ada cinta ku dapat. Mengapa ada derita bila bahagia tercipata mengapa ada sang hitam bila putih menyenangkan....”
Aku bagai bintang yang sangat merindukan bulan. Berharap berharap dan terus berharap. Tuhan ataukah takdirku hany untuk selalu menunggu dan selalu berharap. Aku ingin tertidur, dan disaat aku terbangun nanti aku ingin mendapati bahwa tak ada lagi yang kuharapkan. Tak ada lagi yang harus tersalahkan dan tak ada lagi yang harus tersakiti.
***
Tahun ketiga aku mengenakan seragam putih abu-abu. Perasaan yang setahun berat sebelah ini pun mulai menemui titik terang. Bukan. Bukan karena Gedha berbelok kepadaku, melainkan dia telah bahagia dengan seseorang lain dan tentunya bukan aku. Mungkin aku terlahir untuk menjadi orang penyabar. Aku hanya bisa diam dan berkata. “semoga Gedha bahagia dengannya.”  nyatanya melupakan seseorang yang pernah mengukir namanya di hati kita tak semudah menghafalkan namanya. Dan aku belajar dari sebuah pengalaman bahwa berharap tak selalu berakhir bahagia. Tak sedikit mereka yang patah hati layaknya aku sekarang. Tapi aku masih bangga, masih ada teman yang selalu sayang dan cinta kepadaku. Dan aku tahu itu. Aku dan kamu. Kita tak akan pernah bisa menyatu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar